MTEN IPGM-KPI

Gagasan Majlis Tarbiyah Nuqaba (MTEN) Diwujudkan Sekitar Tahun 2005-2006 Bagi Memastikan Kelangsungan Biah Islamiyyah Di Bumi IPGM-KPI ini terus berkemudi.

Dapatkan Update Terkini

Daftar Untuk Update Terkini

Showing posts with label Bicara Agama. Show all posts
Showing posts with label Bicara Agama. Show all posts

Friday, July 30, 2010

“Ya Allah Sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan.”



Telah berlalu hari, minggu, dan bulan. Sedar atau tidak, kita semakin mendekati bulan yang penuh kebaikan, keberkatan, dan rahmat. Bergema di serata dunia doa orang-orang yang beriman; Allahumma Ballighna Ramadhan. Doa yang diwarisi dari kekasih yang dicintai Ar-Rasul s.a.w.
Allahumma Ballighna Ramadhan. Inilah doa yang diulang-ulang oleh Rasulullah s.a.w apabila mendekati bulan yang mulia ini. Diriwayatkan bahawa apabila tibanya bulan Rejab, maka Rasulullah akan berdoa ‘Ya Allah Berkatilah kami di bulan Rejab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan’ (Riwayat Al-Bazzar, At-Thabrani, Al-Baihaqi). Para sahabat yang bersama dengan Rasulullah s.a.w dididik dengan tema yang agung ini; Allahumma Ballighna Ramadhan. Kesannya, mereka menyambut dan menanti Ramadhan dengan penuh kerinduan dan kecintaan. Ini terbukti dengan doa mereka selama enam bulan sebelum Ramadhan menharap agar bertemu dengannya. Kemudiannya, enam bulan selepas Ramadhan pula disi dengan tangisan kerana berlalunya Ramadhan. Saudara yang mulia, bagaimanakah halnya kita?
Allahumma Ballighna Ramadhan, merupakan doa dan harapan. Menjadi tanda bagi hamba-hamba yang salih bahawa mereka mengidam dan tamakkan limpahan Allah dalam bulan ini (Rahmat, Keampunan, Pelepasan dari Neraka). Kita mesti sentiasa berjaga-jaga agar peluang ini tidak disia-siakan atau berlalu tanpa dimanfaatkan.
Maka bagaimanakah caranya kita menyambut kedatangan bulan Ramadhan yang mulia ini? Persediaan yang rapi dan terancang sangat penting dalam menjayakan Ramdhan kali ini.
Persediaan
Cara
Iman
1. Taubat yang benar (Istighfar, meninggalkan maksiat).
2. Sentiasa berdoa Allahumma Ballighna Ramadhan.
3. Perbanyakkan puasa di bulan Sya’ban (Isnin-Khamis, 15-16-17).
4. Membaca Al-Quran (meletakkan matlamat satu juz sehari misalnya).
5. Mujahadah untuk bangun malam (beberapa kali seminggu).
6. Berzikir setiap masa, Al-Mathurat pagi dan petang (penggunaan tasbih sangat membantu).
Ilmu
1. Membaca/belajar buku Feqah Puasa dengan lengkap beserta kelebihan, rahsia, dan tafsiran ayat Al-Quran yang berkait dengan puasa.
2. Membaca buku-buku penyucian jiwa.
3. Mendengar ceramah-ceramah tentang Ramadhan.
4. Mengulangkaji surah-surah yang telah dihafal, sebagai persediaan solat samada sebagai imam atau makmun di bulan Ramadhan.
Dakwah
1. Bersedia untuk memberi tazkirah/ceramah tentang kelebihan dakwah di bulan Ramadhan.
2. Menghadiri majlis ilmu di masjid-masjid samada sebagai penceramah atau pendengar.
3. Mengingatkan orang lain tentang kepentingan membuat persediaan untuk Ramadhan.
4. Memberi hadiah Ramadhan kepada rakan-rakan dengan tujuan mendekatkan diri dan mereka kepada Allah.
5. Menyediakan risalah/majalah kecil untuk jiran-jiran tentang persediaan menyambut Ramadhan.
Keluarga
1. Membuat persediaan bersama seluruh ahli keluarga untuk menyambut Ramadhan terutama dari aspek iman dan ilmu.
2. Membaca buku berkaitan Ramadhan bersama-sama.
Keazaman
1. Membuka lembaran amalan baru yang jauh lebih baik.
2. Menjadikan hari-hari dalam bulan ini, lebih baik dari hari-hari biasa.
3. Sentiasa memakmurkan rumah Allah, pada setiap solat fardhu dan iktikaf.
4. Membersihkan puasa dari perkara yang merosakkannya seperti mengumpat.
5. Sentiasa berlapang dada.
6. Menghadirkan niat untuk amal soleh di bulan puasa.
Jihad
1. Merealisasikan matlamat ‘Bersungguh-sungguh melawan nafsu’.
2. Menahan diri dari berlebihan dalam perkara harus (makan, pakaian, tidur).
3. Menjaga lidah dari berkata keji, mengumpat, dan mencaci.
4. Menahan syahwat dari perkara yang haram.
5. Membuat semakan amalan di bulan Ramadhan tentang segala yang dibincangkan di atas.


»»  read more

Wednesday, December 30, 2009

Muharram


Dapatkan Mesej Bergambar di Sini

Bulan Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan Allah. Empat bulan tersebut adalah bulan Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab.

“Sesungguhnya jumlah bulan di kitabullah (Al Quran) itu ada dua belas bulan sejak Allah menciptakan langit dan bumi, empat di antaranya adalah bulan-bulan haram” (QS. At Taubah: 36)

Kata Muharram artinya “dilarang”. Sebelum datangnya ajaran Islam, bulan Muharram sudah dikenal sebagai bulan suci dan dimuliakan oleh masyarakat Jahiliyah. Pada bulan ini dilarang untuk melakukan hal-hal seperti peperangan dan bentuk persengketaan lainnya. Kemudian ketika Islam datang, kemuliaan bulan haram ditetapkan dan dipertahankan sementara tradisi jahiliyah yang lain dihapuskan termasuk kesepakatan tidak berperang.

Bulan Muharram memiliki banyak keutamaan, sehingga bulan ini disebut bulan Allah (Syahrullah). Beribadah pada bulan haram pahalanya dilipatgandakan dan bermaksiat di bulan ini dosanya dilipatgandakan pula. Pada bulan ini, tanggal 10 Muharram, Allah menyelamatkan nabi Musa a.s dan Bani Israil dari kejaran Firaun. Mereka memuliakannya dengan berpuasa. Kemudian Rasulullah SAW menetapkan puasa pada tanggal 10 Muharram sebagai kesyukuran atas pertolongan Allah SWT. Masyarakat Jahiliyah sebelumnya juga berpuasa. Puasa Muharram tadinya hukumnya wajib, kemudian berubah jadi sunnah setelah turun kewajiban puasa Ramadhan.

“Ini adalah hari yang agung yaitu hari Allah menyelamatkan Musa dan menenggelamkan keluarga Firaun.

Rasulullah SAW bersabda: “Dari Ibu Abbas ra, bahwa Nabi SAW, ketika datang ke Madinah, mendapatkan orang Yahudi berpuasa satu hari, yaitu ‘Asyuraa (10 Muharram). Mereka berkata, “Ini adalah hari yang agung yaitu hari Allah menyelamatkan Musa dan menenggelamkan keluarga Firaun. Maka Nabi Musa as berpuasa sebagai bukti syukur kepada Allah SWT”. Rasulullah SAW, berkata, “Saya lebih berhak mengikuti Musa as. Daripada mereka.” Maka beliau berpuasa dan memerintahkan (umatnya) untuk berpuasa”. (HR. Bukhari)

Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baiknya puasa setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah Muharram. Dan sebaik-baiknya ibadah setelah ibadah wajib adalah shalat malam.” (HR Muslim)

Walaupun ada kesamaan dalam ibadah, khususnya berpuasa, tetapi Rasulullah SAW memerintahkan pada umatnya agar berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Yahudi, apalagi oleh orang-orang musyrik. Oleh karena itu beberapa hadits menyarankan agar puasa ‘Asyura diikuti oleh puasa satu hari sebelum atau sesudah puasa hari ‘Asyura. Secara umumnya, puasa Muharram dapat dilakukan dengan beberapa pilihan:

1. Berpuasa tiga hari, sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya, yaitu puasa tanggal 9, 10 dan 11 Muharram.

2. Berpuasa pada hari itu dan satu hari sesudah atau sebelumnya, yaitu puasa tanggal 9 dan 10, atau 10 dan 11 Muharram.

3. Puasa pada tanggal 10 saja, hal ini karena ketika Rasulullah SAW memerintahkan untuk puasa pada hari ‘Asyura para sahabat berkata: “Itu adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani, beliau bersabda: “Jika datang tahun depan insya Allah kita akan berpuasa hari kesembilan, akan tetapi beliau meninggal pada tahun tersebut.” (HR. Muslim)

Landasan puasa pada tanggal 11 Muharram didasarkan pada keumuman dalil keutamaan berpuasa pada bulan Muharram. Di samping itu sebagai bentuk kehati-hatian jika terjadi kesalahan dalam penghitungan awal Muharram. Selain berpuasa, umat Islam disarankan untuk banyak bersedekah dan menyediakan lebih banyak makanan untuk keluarganya pada 10 Muharram. Tradisi ini memang tidak disebutkan dalam hadits, namun ulama seperti Baihaqi dan Ibnu Hibban menyatakan bahwa hal itu baik untuk dilakukan. Demikian juga sebagian umat Islam menjadikan bulan Muharram sebagai bulan anak yatim. Menyantuni dan memelihara anak yatim adalah sesuatu yang sangat mulia dan dapat dilakukan kapan saja. Dan tidak ada landasan yang kuat mengaitkan menyayangi dan menyantuni anak yatim hanya pada bulan Muhaaram. Bulan Muharram adalah bulan pertama dalam sistem kalender Islam. Oleh karena itu salah satu momentum yang sangat penting bagi umat Islam yaitu menjadikan pergantian tahun baru Islam sebagai saranan umat Islam untuk bermuhasabah terhadap langkah-langkah yang telah dilakukan dan rencana ke depan yang lebih baik lagi. Momentum perubahan dan perbaikan menuju kebangkitan Islam sesuai dengan jiwa hijrah Rasulullah SAW dan sahabatnya dari Mekkah ke Madinah.

Dari Abu Qatada ra. Rasulullah ditanya tentang puasa hari ‘Asyura, beliau bersabda: “Saya berharap ia bisa menghapuskan dosa-dosa satu tahun yang telah lewat.” (HR. Muslim)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al Hasyr: 18)

sumber : Bayan DSP - PeKaSe http://pangerans.multiply.com/journal/item/284

http://www.iluvislam.com/v1/readarticle.php?article_id=848

»»  read more

Friday, May 29, 2009

KRITERIA KHALIFATULLAH

1. Ilmu

"Dia mengajarkan kepada Adam asma (nama-nama benda) semuanya, kemudian dia mempertunjukkanya kepada para malaikat .

Lalu Allah berfirman (kepada para malaikat), Sebutkanlah kepada Ku asma-asma itu, jika kalian memang benar ?" (Surah Al-Baqarah :31)

2. Iman dan amal Soleh

" Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan beramal soleh, bahawa Dia akan menjadikan mereka sebagai khalifah di bumi ,

Sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka sebagai khalifah ". ( Surah An-Nur : 55)


3. Memberi keputusan dengan benar (haq) dan tidak mengikuti hawa nafsu


"Allah taala berfirman, wahai Daud, kami jadikan engkau sebagai khalifah di bumi ,

maka berilah keputusan dengan benar dan janganlah mengikuti hawa nafsu , kerana hawa nafsu akan menyesatkanmu dari jalan Allah" . ( Surah Shad : 26)

4. Amar Ma'ruf dan nahi mungkar

" Rasulullah saw bersabda " Barangsiapa ber-amar ma'ruf dan nahi mungkar, maka dia adalah khalifatullah di bumi dan khalifah kitab-Nya serta khalifah rasul-Nya"

(Kitab Mizan al-Hikmah, jilid 3 hal 80)
»»  read more

Thursday, May 28, 2009

POLIGAMI EPISODE 1

"Awak jangan nak menggatal! Diri sendiri tak terjaga, ada hati nak kahwin lagi satu!" tengking Salmah yang berang. "Ah! Jangan nak nafikan hak saya! Mana Islam kata lelaki boleh kahwin satu saja! Saya ada hak dan saya menurut apa yang Al-Quran ajar! Awak tak faham Al-Quran ke? Ini sunnah!" balas Yusuf mempertahankan diri. Begitulah dialog sepasang suami isteri. Poligami adalah isu 'evergreen' di dalam agama Islam. Bukan sahaja ditentang oleh bukan Islam, malahan turut tidak disenangi segelintir Muslim. Oleh demikian, isu poligami harus dibincangkan.

MAKSUD POLIGAMI

Sebelum berdiskusi tentang perihal poligami, perlulah seseorang itu memahami maksud poligami. Secara ringkas, poligami bermaksud 'seseorang yang mempunyai pasangan hidup lebih daripada seorang'. Contohnya apabila seorang lelaki mempunyai tiga isteri atau seorang wanita mempunyai empat suami [1]. Penulis tidak menafikan kewujudan poligami di dalam Islam. Dalil yang menyokong wujudnya poligami di dalam Islam tercatit di dalam Al-Quran.

"Dan jika kamu takut tidak berlaku adil terhadap perempuan-perempuan yatim (apabila kamu berkahwin dengan mereka), maka berkahwinlah dengan sesiapa yang kamu berkenan dari perempuan-perempuan (lain): Dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu bimbang tidak akan berlaku adil (di antara isteri-isteri kamu) maka (berkahwinlah dengan) seorang sahaja" - An-Nisa' 4:3

Kini timbul persoalan, mengapa Islam membenarkan poligami? Poligami telah meretakkan banyak rumahtangga. Adakah Tuhan tidak nampak poligami hanya memberi masalah kepada wanita?

>SATU PENYATAAN

Ramai orang mempunyai tanggapan bahawa Islam adalah agama yang memperkenalkan poligami. Namun tanggapan ini adalah tidak tepat. Islam tidak pernah memperkenalkan poligami kepada manusia. Islam hanya meletakkan had kepada poligami. Sebelum Al-Quran diturunkan 1400 tahun dahulu, masyarakat dunia telah pun mempraktikkan poligami.

Lihat sahaja sejarah bangsa Rom, maharaja serta orang atasan dinasti China, dan golongan Arab Jahiliyyah. Mereka telah pun mempraktik poligami sebelum Al-Quran diturunkan, malah sebelum Nabi Muhammad S.A.W dilahirkan. Pada masa itu, seorang lelaki boleh mempunyai seberapa banyak isteri yang mereka ingini. Penulis pernah membaca seorang lelaki mempunyai hampir 200 orang isteri semasa zaman pemerintahan Rom. Secara positif, had poligami yang diperkenalkan Islam adalah jauh lebih baik daripada poligami tanpa had.

SATU-SATUNYA KITAB

Mungkin para pembaca akan terfikir, jika benar poligami sudah lama dipraktikkan, mengapa penganut agama lain hanya dibenar berkahwin seorang sahaja? Ini juga bermakna kitab agama mereka turut tidak membenarkan poligami! Sekali lagi, tanggapan ini kurang tepat. Al-Quran adalah satu-satunya kitab agama di dunia yang menyarankan agar lelaki berkahwin hanya satu isteri.

"Kemudian jika kamu bimbang tidak akan berlaku adil (di antara isteri-isteri kamu) maka (berkahwinlah dengan) seorang sahaja" - An-Nisa' 4:3

Al-Quran lebih menyarankan lelaki berkahwin hanya seorang jika berasa risau tidak akan dapat berlaku adil. Kitab agama-agama lain tidak pernah menghalang poligami. Tidak ada satu ayat di dalam Vedas, Ramayan, Mahabrat, Geeta, Talmud atau Bible yang mengarahkan lelaki agar berkahwin hanya seorang. Sebaliknya terdapat banyak ayat yang menunjukkan personaliti di dalam kitab-kitab ini mengamalkan poligami.

"He (Solomon) had seven hundred wives of royal birth and three hundred concubines, and his wives led him astray" - 1 Kings 11:3

"In Jerusalem David took more wives and became the father of more sons and daughters" - 1 Chronicles 14:3

"Rehoboam loved Maacah daughter of Absalom more than any of his other wives and concubines. In all, he had eighteen wives and sixty concubines, twenty-eight sons and sixty daughters" - 2 Chronicles 11:21

Di dalam kitab agama Hindu pula ada memberitahu bahawa, Raja Dasharat mempunyai tiga orang isteri dan Krishna mempunyai 16, 108 orang isteri [2]. Contoh di atas jelas menunjukkan poligami bukanlah satu perkara yang ditegah di dalam agama-agama ini. Mungkin ada pembaca Kristian akan membalas bahawa terdapat ayat di dalam Bible yang mengatakan lelaki hanya dibenarkan berkahwin seorang sahaja. Penulis meminta pembaca Kristian agar menunjukkan ayat tersebut.

TIDAK BERPANDUKAN KITAB

Mungkin persoalan lain akan timbul difikiran para pembaca. Jika benar kitab agama-agama ini membenarkan poligami, mengapa penganut agama-agama ini ditegah berkahwin lebih daripada satu? Jawapannya mudah; kerana mereka tidak mengikut kitab agama mereka. Tegahan yang dilakukan di dalam agama-agama ini tidak berpandukan kitab agama mereka.

Pada zaman awal, ramai lelaki Kristian dibenar untuk mengamalkan poligami kerana tiada larangan daripada kitab Bible. Hanya beberapa abad yang lepas, pihak Gereja telah menghadkan bilangan isteri kepada satu. Poligami turut dipratik di dalam agama Yahudi sehinggalah Rabbi Gershom Ben Yehudah (960 C.E - 1040 C.E) melarangnya. Malah golongan Yahudi Sephardic yang tinggal di negara Islam turut mengamalkan poligami sehingga tahun 1950-an. Praktik ini diberhentikan apabila 'Act of the Chief Rabbinate of Israel' mengarahkan lelaki hanya boleh berkahwin seorang perempuan sahaja.

Dalam satu laporan yang bertajuk 'Committee of The Status of Woman In Islam', dikeluarkan pada 1975, memberitahu, peratusan perkahwinan poligami antara tahun 1951-1961 adalah - 5.06% dikalangan penganut agama Hindu dan hanya 4.31 peratus dikalangan Muslim. Mengapa penganut agama Hindu mengamalkan poligami lebih daripada Muslim? Pada tahun 1954, Akta Perkahwinan Hindu dikeluarkan, yang memberitahu - adalah satu kesalahan seorang Hindu mempunyai lebih daripada seorang isteri. Ini hanyalah undang-undang negara India dan bukanlah undang-undang daripada kitab Hindu.

Seperti yang diterangkan di atas, agama-agama selain Islam turut membenarkan poligami. Penganut merekalah yang mengharamkan poligami tanpa sebab yang pasti dan tidak berpandukan kitab agama mereka. Penulis berasa pelik mengapa mereka melakukan pengharaman sedangkan kitab agama mereka menghalalkan. Bagaikan satu tindakan populis untuk menarik perhatian. Muslim adalah lebih baik kerana mengikut apa yang tertulis di dalam Al-Quran. Cuma akhir-akhir ini wujud gerakan feminis Muslim yang cuba mengatakan tidak wujud poligami di dalam Islam.

UNDANG-UNDANG BARAT

Kebanyakan agama utama di dunia tidak melarang poligami. Lebih menarik, poligami di dalam Islam adalah jauh lebih baik daripada poligami di dalam agama-agama lain. Rakan penulis pernah ditanya, mengapa Islam tidak mengikut undang-undang Barat? - satu lelaki satu isteri. Sedarkah anda, undang-undang perkahwinan Barat sebenarnya melindungi lelaki? Undang-undang ini langsung tidak memberi hak dan melindungi wanita. Penulis berkata demikian atas beberapa sebab.

1. Seorang lelaki hanya boleh berkahwin seorang wanita sahaja. Wanita ini adalah isteri yang sah menurut undang-undang tersebut. Tiada masalah disini.
2. Lelaki Barat ini, walaupun sudah berkahwin, dia masih boleh mempunyai perempuan simpanan diluar rumahnya. Semakin ramai perempuan simpanan, lebih 'macho' lelaki itu.
3. Perempuan simpanan ini tidak mempunyai apa-apa hak. Dia tidak boleh meminta agar lelaki Barat ini berkahwin dengannya. Jika anak luar nikah dilahirkan, anak tersebut tidak berhak mendapat apa-apa.
4. Jika lelaki Barat ini sudah puas, dia boleh meninggalkan perempuan ini. Lelaki ini tidak perlu untuk bertanggungjawab. Tidak ada apa-apa yang dapat dilakukan wanita ini. Habih madu, sepah dibuang.

Jika poligami dibenarkan, masalah ini dapat dihapuskan. Perempuan simpanan tersebut boleh menjadi isteri yang sah melalui poligami. Mempunyai hak yang sama dengan isteri pertama. Anak yang dilahirkan turut mendapat perlindungan undang-undang. Menjadi pilihan wanita itu sama ada mahu menjadi perempuan simpanan atau isteri yang sah. Penulis tidak dapat memikirkan jika ada wanita yang sanggup menjadi perempuan simpanan daripada menjadi isteri yang sah.

HILANGNYA SALAH TANGGAPAN

Di dalam bahagian pertama ini, diterangkan bahawa Islam tidak pernah memperkenalkan poligami. Turut diberitahu adalah agama-agama lain juga membenarkan poligami. Cuma tangan-tangan penganut mereka yang melakukan perubahan. Di dalam bahagian kedua, penulis akan berkongsi punca mengapa poligami sukar untuk diterima, tanggungjawab seorang lelaki untuk mempraktik poligami dan juga hikmah disebalik poligami. Diharapkan bahagian pertama ini dapat mencerahkan salah tanggapan yang ada pada Islam berkaitan poligami.




-------------------------------------------------------------------------------------
[1] Dictionary.com - Polygamy
[2] Charudeva Shastri Felicitation Volume, p. 449

http://journaldaie.com/2008/10/awak-jangan-nak-menggatal-diri-sendiri.html
»»  read more

GEJALA SOSIAL SUDAH DITAHAP KRONIK



By : Mohd Amzari Iberahim

Hampir setiap hari akhbar melaporkan kes-kes zina atau bersekedudukan yang dilakukan oleh golongan muda-mudi sama ada dengan pasangan yang masih bujang ataupun yang sudah menjadi suami orang. Nampaknya kes-kes sebegini menunjukkan peningkatan dari hari ke hari sehingga menjadikan mereka yang bergelar ibu bapa merasa rimas dan tidak senang duduk kerana khuatir virus yang sangat merosakkan ini menjangkiti anak-anak mereka. Begitu banyak akhbar melaporkan kes yang berkaitan dengan kegiatan bersekedudukan yang dilakukan oleh pelbagai jenis peringkat umur sehingga ramai yang mengandung anak luar nikah. Persoalannya kenapakah kes-kes sebegini semakin menunjukkan peningkatan dari hari ke hari sehingga tiada seorang pun merasa senang dengan peningkatan yang ditunjukkan.


AMR MAARUF TIDAK SEIRINGAN DENGAN NAHI MUNGKAR

Untuk menyenaraikan faktor-faktor pendorong kepada gejala yang tidak sihat ini terlalu banyak yang boleh saya senaraikan di sini namun itu bukan menjadi fokus saya dalam tulisan kali ini kerana dalam tulisan ini saya cuba mengajak pembaca berfikir sebab utama yang menjadikan kes ini semakin bertambah adalah kerana amr maaruf berjalan tidak seiringan dengan nahi mungkar. Jika kita perhatikan dalam negara kita sudah banyak kuliah-kuliah agama diadakan bertujuan untuk menyedarkan kita tentang batasan pergaulan yang dibenarkan sebagai seorang Muslim tidak cukup dengan itu diadakan juga siaran langsung berbentuk ceramah dan motivasi seperti Al-Kuliyyah, Forum Perdana Ehwal Islam, Ar-Rayyan dan sebagainya. Semuanya ini tidak lain dan tidak bukan bertujuan menyuntik kesedaran kepada kita selaku orang yang menjawat jawatan full time Muslim mengenai perkara-perkara yang boleh dilakukan dan perkara yang diharamkan kepada kita untuk melakukannya. Namun amr maaruf seperti ini sahaja masih lagi belum cukup kerana dalam masa yang sama program-program yang menyuburkan segala macam maksiat nampaknya semakin hebat dijalankan seolah-olah ingin berlawan dengan program amr maaruf yang telah dilaksanakan. Perbuatan seperti ini dapatlah kita samakan seperti perbuatan meludah ke langit yang akhirnya akan mengenai muka sendiri kerana apa guna diadakan program-program ceramah kesedaran dan pada masa yang sama program-program berbentuk kemaksiatan dan percampuran antara lelaki dan perempuan tidak cuba dikurangkan.


ISLAM SOLUSI TERBAIK

Apa pun masalah yang kita hadapi pada hari ini Islam mempunyai jalan penyelesaiannya yang tersendiri dan terbaik namun amat malang sekali bagi kita yang bergelar seorang Islam namun tidak cuba mencari jalan penyelesaian seperti yang telah pun ditunjukkan oleh baginda Nabi Muhammad s.a.w dalam soal ini. Apabila ada sesetengah golongan yang cuba menegakkan hukum hudud kepada orang yang berzina mereka dituduh cuba berpolitik sedangkan hukum ini telah pun tercatit dan tertulis dalam Al-Quran yang suci dan ia telah pun dipraktikkan oleh baginda Nabi Muhammad s.a.w dan ia telah terbukti sangat berkesan bagi membendung gejala yang sangat merosakkan ini. Janganlah kita bersikap tidak mahu melaksanakan perintah Allah dalam masa yang sama cuba menghalang orang lain yang cuba melaksanakan perintah dan peraturan Allah di atas muka bumi ini. Jika kita perhatikan masyarakat kita pada hari ini kita lebih suka untuk mencari dalil dan alasan supaya kita dapat terlepas dari perintah Allah seperti mengatakan hukum ini hanya sesuai pada zaman nabi dan sebagainya sedangkan kita tidak pernah berusaha untuk melaksanakannya. Apakah ertinya hidup di dunia dalam keadaan menderhaka kepada Allah kerana hidup di dunia akan menjadi sempit di akhirat bertambah-tambah penderitaan. Wallahu’alam.
»»  read more

Liqa' Nuqaba..

Liqa' Nuqaba..

Liqa Nuqaba'

Liqa Nuqaba'

Daurah Kitab Siri 2

Daurah Kitab Siri 2

Daurah Kitab Siri 3

Daurah Kitab Siri 3

Daurah Kitab

Daurah Kitab